Kasus konfirmasi positif virus Corona atau COVID-19 di Boyolali, saat ini kembali bertambah dan kini jumlah total telah mencapai 1.020 orang. Klaster keluarga telah mendominasi kasus-kasus Corona yang dimana saat ini masih aktif.
"Untuk tambahan kasus dari tanggal 17 hingga 19 Oktober (2020), ini total ada 27 kasus. Di mana tanggal 17 itu ada tambahan 14 kasus baru, tanggal 18 ada 13 kasus dan di tanggal 19 Oktober ini masing kosong," ucap Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Boyolali, Ratri S Survivalina, dalam keterangannya kepada para wartawan di kantornya, Senin (19/10/2020).
Dengan bertambahnya data tersebut, total kasus terkonfirmasi positif COVID-19 sampai hari ini, sejumlah 1.020 orang. Dari jumlah tersebut, yang telah menjalani perawatan sebanyak 87 orang, menjalani isolasi mandiri 74 orang, selesai isolasi ada 819 orang dan meninggal dunia 40 orang.
"Angka kesembuhan di Boyolali ini cukup tinggi yaitu di angka 80 persen," ucapnya.
Di tambah lagi 27 kasus baru dalam tiga hari terakhir, jelas Lina, tersebar di 12 kecamatan. Untuk daerah paling banyak yaitu dari Kecamatan Selo dengan enam kasus baru. Kemudian Kecamatan Klego lima kasus, Ngemplak empat kasus, Banyudono tiga kasus dan Kecamatan Teras dua kasus.
"Sedangkan lainnya yaitu dari Kecamatan Ampel, Andong, Boyolali, Karanggede, Mojosongo, Sambi dan Sawit masing-masing satu kasus," jelas Lina.
Untuk enam kasus baru dari Kecamatan Selo, merupakan hasil screening di Puskesmas Selo. Enam orang tersebut merupakan satu keluarga dari Desa Tlogolele. Kasus positif COVID-19, warga lereng Gunung Merapi ini berawal dari seorang warga bernisial EHA yang melakukan perjalanan ke luar kota.
"Kemudian dilakukan screening dengan rapid test di Puskesmas Selo, hasilnya reaktif. Mengetahui hasilnya reaktif, dari Puskesmas menyarankan untuk screening satu keluarga sekalian dan ternyata hasilnya positif semua. Sehingga kita masukkan menjadi klaster keluarga EHA dari Desa Tlogolele," jelas dia.
Lina juga menjelaskan bahwa klaster penyebaran virus Corona di Boyolali yang masih aktif didominasi klaster keluarga. Dari 14 klaster, 11 di antaranya merupakan klaster keluarga.
"Sedangkan sisanya adalah klaster tempat kerja dan klaster tilik," ucapnya.
Klaster tempat kerja yang masih aktif yakni Milla Husada Banyudono dan MIN Kebonan, Karanggede. Sementara itu untuk klaster tilik berada di Desa Pulutan.
Selebihnya Lina juga mengatakan bahwa kondisi ini tidak perlu dikhawatirkan. Menurut dia, temuan kasus ini menunjukkan tracing yang dilakukan oleh Dinkes Boyolali dilaksanakan dengan tepat.
Dan untuk penanganan kasus COVID-19, Dinas Kesehatan Boyolali telah memprioritaskan tiga kegiatan utama, antara lain tes swab, tracing atau deteksi dini dan pelacakan kasus serta treatment yakni mengobati pasien positif.

إرسال تعليق