Ilustrasi, sumber foto: Shutterstock
Delusi adalah jenis gangguan mental serius yang dikenal sebagai psikosis. Psikosis ditandai dengan ketidaksinambungan antara pemikiran, imajinasi dan emosi dengan kenyataan yang sebenarnya. Orang yang mengalami delusi seringkali memiliki pengalaman yang jauh dari kenyataan.
Seseorang dengan gangguan delusi percaya pada hal-hal yang tidak nyata atau yang tidak sesuai dengan situasinya. Meski telah terbukti bahwa apa yang diyakini penderita berbeda dengan kenyataan, penderita tetap berpegang teguh pada pikirannya.
Penyebab dan Jenis Gangguan Delusi
Penyebab gangguan delusi belum diketahui secara pasti, namun terdapat berbagai faktor pendorong, antara lain faktor keturunan atau genetik, faktor biologis, lingkungan, dan psikologis. Terdapat kecenderungan bahwa gangguan delusi dapat terjadi pada orang yang memiliki riwayat keluarga gangguan delusi atau skizofrenia.
Beberapa faktor yang dapat memicu delusi antara lain stres, penyalahgunaan zat, konsumsi alkohol berlebihan, atau fungsi otak yang tidak normal, seperti pada penderita penyakit Parkinson, penyakit Huntington, demensia, stroke, dan kelainan kromosom.
Gangguan delusi terbagi menjadi beberapa jenis, antara lain:
Waham kebesaran (grandiose)
Penderita waham kebesaran atau megalomania biasanya memiliki kepercayaan pada kekuatan, kecerdasan, jati diri yang membumbung tinggi, dan percaya bahwa mereka telah membuat penemuan penting atau memiliki talenta yang hebat. Selain itu, penderita juga dapat meyakini bahwa dirinya memiliki kemampuan khusus atau memiliki hubungan khusus dengan tokoh-tokoh hebat, misalnya hubungan dengan presiden atau selebriti ternama. Nyatanya, tidak demikian.
Erotomania
Penderita erotomania percaya bahwa mereka sangat dicintai oleh seseorang. Seringkali, orang yang menjadi objek delusi adalah orang terkenal atau jabatan penting. Penderita biasanya mengintai dan mencoba melakukan kontak dengan objek delusinya.
Waham kejar (persecutory)
Penderita merasa terancam karena percaya bahwa orang lain melecehkan, memata-matai, atau berencana menyakiti mereka.
Waham cemburu
Pada delusi jenis ini, penderita meyakini bahwa pasangannya tidak setia kepadanya, meski tidak didukung oleh fakta apapun.
Campuran
Dalam hal ini, orang yang mengalami delusi mengalami dua jenis gangguan delusi atau bahkan lebih dari itu.
Berbagai Gejala Gangguan Delusi
Seseorang dikatakan mengalami gangguan delusi jika mengalami gejala delusi setidaknya selama satu bulan. Gejala umum adalah mudah tersinggung dan ketidakstabilan emosional. Gangguan ini bisa berlangsung selama beberapa bulan, namun bisa juga berlangsung lama dengan intensitas yang datang dan pergi.
Pada beberapa kondisi, gejala delusi juga bisa disertai halusinasi. Misalnya, penderita delusi yang merasa organ tubuhnya sedang membusuk dapat mengalami halusinasi berupa mencium bau tidak sedap yang tidak ada, atau merasakan sensasi lain yang berkaitan dengan delusi tersebut.
Delusi bisa muncul sebagai gejala psikosis mental yang lebih serius. Oleh karena itu, saat memeriksa pasien yang mengalami delusi, biasanya dokter juga mengevaluasi kemungkinan penyakit lain, seperti skizofrenia, gangguan mood, atau masalah medis yang dapat memicu gejala delusi.
Perlu dicatat bahwa psikosis jauh berbeda dengan psikopat. Penderita psikosis cenderung berperilaku sedemikian rupa sehingga membahayakan dirinya sendiri, sedangkan perilaku psikopat atau penderita gangguan kepribadian anti sosial cenderung merugikan orang lain.
Jika Anda mengalami atau mengetahui seseorang yang dekat dengan Anda mengalami delusi, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan psikiater. Terapi yang dapat dilakukan untuk mengatasi gangguan ini, yang meliputi tindakan darurat agar penderita tidak membahayakan dirinya sendiri, terapi perilaku kognitif, dan pemberian obat antipsikotik.
Situs Bolatangkas Online | Agen Bolatangkas Online | Judi Bolatangkas Terpercaya | Pusat Bolatangkas
Posting Komentar