Ilustrasi, sumber foto: iStockphotos
Studi menunjukkan bahwa 3 dari 4 wanita di dunia mengalami nyeri saat berhubungan, setidaknya sekali seumur hidup. Nyeri saat dan setelah berhubungan disebabkan oleh banyak hal, antara lain faktor stres, masalah pada alat kelamin, kurangnya pelumas dan pemanasan, serta menderita penyakit tertentu.
Salah satu penyakit yang ditkamui dengan nyeri saat berhubungan adalah servisitis. Ini adalah peradangan pada serviks atau leher rahim karena faktor infeksi dan non infeksi. Servisitis ditkamui dengan pendarahan dari keputihan di luar siklus menstruasi, nyeri saat berhubungan, dan keputihan yang tidak normal dari keputihan. Jika tidak ditangani, servisitis dapat menyebar ke rongga perut dan menimbulkan komplikasi berupa masalah kesuburan dan masalah pada janin bagi ibu hamil.
Apa Penyebab Servisitis?
Servisitis disebabkan oleh infeksi bakteri dan virus yang terjadi selama hubungan seksual. Infeksi lain yang dapat menyebar saat berhubungan seks adalah gonore, klamidia, trikomoniasis, dan herpes genital. Selain infeksi, ada beberapa kondisi yang menjadi penyebab servisitis, yaitu:
Reaksi alergi. Misalnya terhadap spermisida atau bahan lateks dari alat kontrasepsi.
Pertumbuhan bakteri baik yang tidak terkendali di Miss V.
Iritasi atau cedera akibat penggunaan tampon.
Ketidakseimbangan hormon yang mengganggu kemampuan tubuh dalam menjaga kesehatan serviks. Misalnya, kadar estrogen lebih rendah daripada kadar progesteron.
Kanker atau efek samping pengobatan kanker.
Selain penyebab di atas, terdapat faktor-faktor yang meningkatkan risiko servisitis. Diantaranya adalah berhubungan seks tidak aman (seperti berganti pasangan dan tidak menggunakan kondom), aktif secara seksual sejak usia muda dan memiliki riwayat penyakit menular seksual (seperti servisitis).
Bagaimana Servisitis Didiagnosis?
Diagnosis servisitis meliputi pemeriksaan fisik untuk melihat kondisi vagina dan serviks dengan alat spekulum. Pemeriksaan penunjang dilakukan untuk memastikan diagnosis, yaitu berupa tes pap smear. Pemeriksaan lain yang mungkin dilakukan adalah dengan menggunakan alat selang berkamera (endoskopi) untuk melihat adanya kondisi abnormal pada vagina dan leher rahim dengan lebih jelas.
Perawatan servisitis dilakukan berdasarkan penyebab dan tingkat keparahannya. Misalnya, servisitis akibat non-infeksius (seperti iritasi saat menelan bahan, alat, atau produk tertentu) dapat diobati dengan menghentikan penggunaan produk pemicu sampai sembuh.
Sedangkan servisitis akibat infeksi diobati dengan konsumsi obat-obatan untuk menghilangkan infeksi dan mencegah penularan. Obat yang biasa dikonsumsi adalah antibiotik, antivirus, dan antijamur. Jika obat tersebut tidak efektif dalam mengobati servisitis, dokter menganjurkan perawatan lain, yaitu cryosurgery, electrosurgery, dan terapi laser.
Bagaimana Mencegah Servisitis?
Pencegahan servisitis dapat dilakukan dengan menerapkan seks aman yaitu menggunakan kondom dan tidak berganti pasangan seksual. Hindari juga produk kewanitaan yang mengandung pewangi karena dapat menyebabkan iritasi pada vagina dan leher rahim. Usai bercinta, pastikan selalu membersihkan area Miss V. Jika kamu sudah berkeluarga dan aktif secara seksual, dianjurkan untuk rutin melakukan pap smear minimal setiap 2-3 tahun sekali.
Situs Bolatangkas Online | Agen Bolatangkas Online | Judi Bolatangkas Terpercaya | Pusat Bolatangkas

إرسال تعليق