Pusat Bola Tangkas - Pasukan Taliban berpatroli di jalan raya sehari setelah penarikan pasukan AS dari Bandara Internasional Hamid Karzai di Kabul, Afghanistan, Selasa (31/8/2021). ANTARA FOTO/REUTERS/Stringer/FOC.


Para pejabat Washington mengatakan pemerintah baru Taliban telah menyetujui misi untuk mengevakuasi sekitar 200 orang Amerika dan orang asing lainnya yang masih berada di Afghanistan. Mereka akan meninggalkan Afghanistan pada Kamis (9/9/2021) dengan penerbangan charter dari Bandara Hamid Karzai, Kabul.


Keberangkatan itu akan menjadi penerbangan internasional pertama yang lepas landas dari Bandara Kabul sejak Taliban mengambil alih pemerintahan pada pertengahan Agustus. Sebelumnya, AS dan koalisinya telah mengangkut lebih dari 124.000 warga asing dan Afghanistan untuk dievakuasi.


Keputusan itu diambil dua hari setelah Taliban mengumumkan pemerintahan sementara, yang sebagian besar adalah Pashtun dan memiliki rekam jejak yang buruk di Barat. Ini merupakan indikasi awal hancurnya harapan masyarakat internasional terhadap janji reformasi Taliban untuk membentuk pemerintahan yang inklusif dan moderat.


Blinken bantah Taliban tidak kooperatif dalam misi evakuasi


Pejabat itu, yang berbicara dengan syarat anonim, tidak dapat memastikan apakah penduduk yang dievakuasi adalah mereka yang telah terdampar selama berhari-hari di kota Mazar-i-Sharif, Afghanistan utara.


Sebelumnya, beredar informasi bahwa Taliban menyandera mereka. Namun, Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken, menepis kabar tersebut dan membenarkan bahwa masalah evakuasi adalah masalah teknis.


Di antara alasan penundaan evakuasi adalah tidak adanya personel militer di lapangan yang mengurus izin dan Gedung Putih tidak memiliki pesawat sewaan.


Pejabat itu juga mencatat bahwa jika Taliban berada di bawah tekanan untuk mengizinkan misi evakuasi, Perwakilan Khusus AS Zalmay Khalilzad.


Warga Afghanistan juga ingin lari dari rezim Taliban


Selain orang asing, ribuan warga Afghanistan juga berharap dapat melarikan diri dari rezim Taliban. Kabarnya, mereka yang terjebak di Mazar-i-Sharif adalah warga yang melarikan diri ke bandara kota melalui pos pemeriksaan Taliban.


"Mereka adalah orang-orang dari lembaga bantuan, orang-orang yang bekerja untuk perusahaan asing dan jurnalis, termasuk reporter perempuan yang mengalami percobaan pembunuhan," kata Nama Vanier dari perusahaan pengembangan dan penelitian Sayara, dikutip dari The Straits Times.


Vanier berhasil membantu 51 warga Afghanistan naik pesawat dari Kabul. Menurutnya, jika AS mendukung misi evakuasi, Taliban akan akomodatif.


Setelah pertemuan dengan pejabat tinggi Qatar, Blinken mengatakan mereka yang terperangkap di Mazar-i-Sharif adalah orang-orang tanpa dokumen perjalanan. Dia menegaskan, Taliban tidak akan mengganggu evakuasi warga yang sudah memiliki dokumen.


Eric Montalvo, mantan tentara dan pengacara AS yang terlibat dalam evakuasi, menuduh misi evakuasi lanjutan gagal karena AS tidak dapat memberikan dokumen perjalanan.


Belum ada pengakuan terhadap pemerintahan baru Taliban


Pada Selasa (7/9/2021), Taliban telah mengumumkan sejumlah tokoh yang mengisi jabatan pemerintahan. Mohammad Hasan Akhund, mantan ajudan dan orang terdekat pendiri Taliban Mullah Omar, terpilih sebagai perdana menteri. Dia didampingi Abdul Ghani Baradar sebagai wakil perdana menteri.


Sorotan dunia internasional tertuju pada Akhund dan Sirajuddin Haqqani sebagai menteri dalam negeri. Keduanya ada di catatan hitam negara-negara Barat dan Haqqani adalah buronan paling dicari AS.


Obaidullah Baheer dari American University of Afghanistan mengatakan penunjukan seorang tokoh lama tidak akan membantu Taliban dalam upaya mereka untuk mendapatkan pengakuan internasional.


“(Taliban) tidak menghabiskan waktu untuk membahas atau menegosiasikan inklusivitas atau potensi pembagian kekuasaan dengan partai politik lain. (Taliban) justru menghabiskan waktu untuk membagi kue (baca: jabatan) di antara barisan mereka sendiri," kata Baheer, dikutip Al Jazeera.


Di sisi lain, juru bicara Gedung Putih Jen Psaki menekankan, pemerintahan Biden tidak akan mengakui kabinet Taliban saat ini. Uni Eropa juga menyuarakan keberatannya atas penunjukan tersebut. Namun, mereka siap untuk melanjutkan misi kemanusiaan.


Arab Saudi berharap pemerintah Afghanistan yang baru dapat memberikan keamanan, stabilitas, dan mencegah munculnya ekstremisme.

Post a Comment

أحدث أقدم